Saturday, September 10, 2011

keintiman dan bunga sakura yang sementara

Kirschblüten-Hanami (2008)
Menjelang fajar, Rudi membuka jendela hotel dan melihat Gunung Fuji telah berdiri kokoh di depannya. Segera, Rudi mengoleskan cat putih pada wajahnya lalu mengenakan pakaian tidur serta kimono milik mendiang istrinya, Trudi. Diam-diam, Rudi meninggalkan Yu, gadis Jepang teman perjalanannya, yang masih tertidur pulas. Langit pagi yang sedang mendekati terang, menemani Rudi berjalan menuruni bukit. Langkah Rudi agak terseret. Rasa sakit pada bagian liver yang ia rasakan di malam hari, kembali muncul dan memperlahan gerakannya.

Dengan susah payah, Rudi akhirnya sampai di tepi sebuah danau dengan pemandangan Gunung Fuji yang sangat jelas di seberangnya. Tubuh Rudi yang biasanya kaku, perlahan bergerak mengikuti suara musik tradisional Jepang yang mengalun. Rudi menari Butoh. Namun saat itu Rudi tidak hanya sekedar menari. Rudi merengkuh kesedihannya atas kematian Trudi dan mengubahnya menjadi gerakan tarian. Memori atas Trudi menggerakkan setiap jengkal tubuh Rudi. Bahkan Trudi yang berada dalam diri Rudi, ikut menari Butoh bersama Rudi. Adegan selanjutnya, Rudi terjatuh dan tak sadarkan diri di tepi danau, setelah usai menari. Rudi meninggal.

Yu mengurus pemakaman Rudi, bersama Karl, anak Rudi yang tinggal di Tokyo. Setelah dikremasi di Jepang, Karl membawa abu Rudi untuk dikuburkan di Bavaria, Jerman, bersama dengan makam Trudi. Setelah pemakaman, tampak anak-anak Rudi berkumpul dan membicarakan kematian ayahnya yang misterius. Mereka kecewa karena mengetahui Rudi meninggal di kamar hotel dengan mengenakan pakaian perempuan bersama gadis berumur 18 tahun.


Cerita di atas merupakan salah satu bagian akhir dari film Kirschblüten-Hanami (2008). Saya menonton film ini di Kedai Kebun Forum, pada hari Rabu yang lalu. Saya tertarik menonton film Kirschblüten-Hanami karena tokoh utamanya, sepasang suami istri lanjut usia yang melakukan perjalanan bersama untuk terakhir kali. Sedikit banyak tokoh ini mengingatkan saya pada nenek saya sendiri. Saya pernah menulis amatan singkat soal rutinitas nenek saya. Berbeda dengan tokoh utama dalam film ini, nenek saya tidak punya dorongan untuk melakukan perjalanan apapun. Baginya, yang terpenting dalam hidup adalah beribadah secara total, agar masuk surga. Saya menonton film ini untuk mencari tahu soal menjadi tua.

Dan ternyata film ini tidak hanya berbicara soal menjadi tua. Film ini berbicara banyak soal keintiman. Sebenarnya agar lebih elaboratif dalam membicarakan, saya seharusnya terlebih dahulu membaca buku Anthony Giddens, The Transformation of Intimacy. Namun menilik etos kerja yang saya miliki dan tanggungan pengerjaan skripsi. Maka penjelasan elaboratif bersama Giddens harus ditunda sementara.

Sunday, September 4, 2011

Cara menjelaskan konsep rumah kepada anjing seperempat Dalmatian berumur 2,5 tahun

Dua minggu yang lalu, sudah kali ketiga Chepas, anjing kami, pulang kembali ke rumah Nagan. Padahal dia sudah dikurung selama satu bulan di rumah baru Kunci, rumah Langenarjan. Selama satu bulan tersebut, Chepas selalu berusaha keluar pagar dan berjalan-jalan. Jalan-jalan adalah salah satu kegemaran Chepas. Ketika masih tinggal di Nagan, setiap malam, Chepas akan meraung-raung dan memohon untuk keluar. Biasanya Chepas keluar pada pukul 11 malam, dan kembali ke rumah pada pukul 7 pagi, keesokan harinya.

Kami menduga Chepas memiliki "wilayah jalan-jalan" yang luas. Kemungkinan sekitar radius 5 kilometer dari rumah. Asumsi ini muncul karena salah seorang teman pernah menangkap basah Chepas sedang berjalan di daerah Purawisata. Bagi yang bukan penghuni Yogyakarta, jarak antara Nagan ke Purawisata adalah sekitar 2 kilometer. Sejauh apapun asumsi kami, hanya Chepas yang benar-benar tahu jarak yang telah ia tempuh untuk berjalan-jalan. Hal yang benar-benar kami tahu adalah Chepas selalu tidur ketika sampai di rumah, kira-kira dari pagi hingga sore hari.

Hobi Chepas ini tidak terlalu mengkhawatirkan kami. Pertama, Chepas tidak menyukai orang yang tidak dikenal. Ia selalu berada dalam moda incognito ketika berjalan-jalan. Kedua, Chepas selalu berhasil menemukan jalan pulang. Dan rumah Nagan tidak memiliki pagar. Sehingga Chepas dapat pergi dan pulang, kapan pun ia mau. Inilah konsep rumah yang dimengerti seumur hidup Chepas.

Thursday, June 23, 2011

Laporan penerimaan dana


Minggu sore, 19 Juni 2011, saya bertemu dengan salah satu admin 31 Hari Menulis, yaitu Ardi Wilda. Dari tangan Ardi Wilda, saya telah menerima uang sebesar Rp 1.400.000,00 (satu juta empat ratus ribu rupiah), dengan beberapa rincian yang gagal saya ingat. Secara sekilas, saya mengingat bahwa Awe sempat berbicara soal salah rekap, Mayda, Dildol, dan uang senilai sepuluh ribu sebagai kembalian.

Tapi saya mengingat jelas kesenangan yang didapatkan ketika menerima uang hadiah tersebut. Sepanjang perjalanan kembali, saya mulai memikirkan jenis oven yang akan saya beli, resep yang akan dicoba, ide membuat usaha bakery, skripsi yang jadi terbengkalai, wajah Ibu saya yang penuh amarah, dan akhirnya sesi melamun berakhir.

Sesampainya di kantor dan kembali menatap kehangatan layar laptop, saya mulai berpikir soal kewajiban menyumbangkan 25 % uang hadiah. Beberapa nama dan institusi sempat bermunculan. Setelah proses fit and proper test yang seksama, dijalankan kurang lebih 5 menit, saya memutuskan untuk memberi sumbangan kepada dua organisasi. Kedua organisasi tersebut, adalah;

1. Animal Friends Jogja
Animal Friends Jogja (AFJ) mendeskripsikan diri mereka sebagai sekelompok orang dengan kesamaan pandangan mengenai perilaku terhadap hewan. Teman-teman AFJ percaya bahwa setiap hewan harus diperlakukan dengan kasih sayang dan penghormatan. Keterangan lebih lanjut mengenai kelompok ini dapat dilihat lewat halaman Facebook dan website mereka.
Saya memilih kelompok ini karena saya percaya dengan integritas para pengurusnya. Kepedulian terhadap hewan, tidak hanya sebatas kepercayaan, tapi juga tercermin pada gaya hidup penggiatnya. Dua orang penggiat AFJ yang saya kenal merupakan dua vegan paling kukuh dan pecinta hewan paling berani. Salah satunya bahkan memiliki banyak anjing peliharaan dan sering memberi pelajaran pada temannya yang ketahuan suka mengonsumsi daging anjing. Kepercayaan saya pada mereka, soal melindungi hewan, hampir sama dengan kepercayaan Robin pada Betmen. Saya memutuskan untuk memberikan 25 % hadiah 31 Hari Menulis kepada Animal Friends Jogja.

2. Yes No Wave
Keputusan ini mungkin bisa dilihat sebagai sebuah konspirasi, karena pendiri netlabel Yes No Wave merupakan pacar saya sendiri. Tapi terlepas dari urusan pacaran, saya berhutang cukup banyak dengan netlabel satu ini. Inspirasi untuk tulisan lomba Jakartabeat, saya dapatkan dari netlabel ini. Saya juga sering mengunduh lagu-lagu rilisan Yes No Wave dan membagikannya ke beberapa teman. Sebagai pihak dekat, saya juga menjadi saksi mata atas proses susah gembira yang dialami dalam mengelola netlabel ini. Saya akan menyumbangkan 25 % hadiah 31 Hari Menulis kepada Yes No Wave Music.

Keseluruhan, saya akan menyumbangkan 50 % hadiah 31 Hari Menulis. Laporan penyerahan sumbangan akan saya berikan di posting berikutnya.

Tuesday, June 7, 2011

Hore, saya menang

Sebenarnya posting kali ini sedikit terlambat. Mengutip kalimat Cinta di film Ada Apa Dengan Cinta?, posting ini basi karena madingnya sudah siap terbit. Tapi seperti kata pepatah basi lainnya, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Saya pernah menyebutkan bahwa blog ini dibuat dalam rangka mengikuti kompetisi 31 Hari Menulis. Menang tidak menang, saya tetap senang karena telah berpartisipasi di kompetisi ini. Dan ternyata saya menang. Saya senang sekali. Akhirnya impian untuk membeli oven bisa terlaksana. Pernyataan juri mengenai keputusan ini, dapat dibaca lewat blog 31 Hari Menulis.

Sesuai dengan peraturan lomba, saya berhak untuk mendapatkan titel blogger terangker dan uang sejumlah 1.380.000 rupiah. Uang ini merupakan akumulasi denda dari peserta-peserta lain yang lalai posting. Peraturan dari lomba ini, saya diharuskan untuk menyumbangkan 25% dari uang tersebut untuk kegiatan sosial. Jangan bayangkan kegiatan sosial yang dimaksud adalah aktivitas yang dilakukan oleh sosialita. Sosialita bukanlah sebutan untuk orang yang melakukan kegiatan sosial.

Saya sudah memikirkan beberapa organisasi sosial. Rencananya, saya akan menyumbangkan 50% dari uang lomba untuk 2 organisasi sosial. Organisasi apakah itu? Kita tunggu di posting selanjutnya, sambil menunggu uangnya terkumpul semua. Seperti yang sudah saya sebutkan, sisa dari uang hadiah akan saya pakai untuk membeli oven listrik. Oven ini akan ditaruh di kantor saya, Kunci Cultural Studies Center. Saya membayangkan oven ini akan digunakan untuk memanggang kue/cemilan bagi teman-teman kantor yang lain. Tidak akan ada lagi peneliti/pengunjung perpustakaan/anjing yang mati gaya karena kelaparan.

Hal lain yang patut ditulis adalah keputusan saya mengganti judul dan nama blog ini. Blog ini dulu bernama The Scrutinizer. Scrutinizer adalah orang yang suka mengamati. Saya memilih nama ini karena dikejar-kejar waktu. Dua hari sebelum kompetisi 31 Hari Menulis dimulai, saya masih belum memiliki blog. Saya bingung memilih nama. Saya ingin menggunakan kata yang berhubungan dengan melihat atau mengamati sesuatu. Berbekal thesaurus, maka pilihan pun jatuh pada kata scrutinizer.

Seiring berjalannya waktu, saya merasa kata scrutinizer kurang cocok dengan blog ini. Scrutinizer mengindikasikan peran seseorang. Orang yang mengamati. Sedangkan blog ini bukan soal peran yang saya pilih, melainkan lebih ke proses yang saya lakukan. Saya membutuhkan judul yang menunjukkan sebuah proses.


Saya pun mendapatkan judul yang tepat setelah menonton video mengenai persepsi Michel Wolff terhadap dunia di sekitarnya. Michael Wolff adalah seorang designer dan ia memiliki perspektif yang menarik. Wolff menyebutkan bahwa ia memiliki otot penglihatan (the muscle of seeing). Otot ini memberinya kemampuan untuk melihat sesuatu dengan cara yang berbeda. Otot penglihatan terdiri atas keingintahuan dan apresiasi. Keingintahuan mendorong kita untuk selalu bertanya dan belajar, hingga akhirnya dapat membuahkan ide-ide yang berbeda. Sedangkan apresiasi membuat kita menghargai segala hal, sekecil apapun. Apresiasi dan keingintahuan inilah yang memperkuat otot penglihatan.

Dan saya ingin memperkuat otot penglihatan saya.

Tuesday, May 31, 2011

The end is the beginning is the end

Akhir adalah awal adalah akhir
The end is the beginning is the end
Smashing Pumpkins bukan termasuk jenis musisi dan musik yang saya sukai. Namun, saya menyukai  kalimat ini. Kalimat yang ajaib.

Kalimat ini memang memiliki struktur yang tidak jelas. Jika ditilik menggunakan struktur SPOK (Subyek+Predikat+Obyek+Keterangan), kalimat ini memiliki 2 predikat (kata adalah) dan 3 subyek (kata akhir, awal, akhir). Padahal menurut struktur yang baku, kalimat harus memiliki minimal 1 subyek dan 1 predikat. Maka, kalimat ini termasuk baku, namun berlebihan.

Dilihat dari makna, kalimat ini seperti menimbulkan pertanyaan yang tidak berkesudahan. Apakah kalimat ini merupakan gabungan dari dua kalimat, yaitu "akhir adalah awal" dan "awal adalah akhir"? Mungkin kalimat ini bisa dibaca dengan sistem logika. Sewaktu SMA, saya mendapatkan pelajaran logika. Salah satu poin dari pelajaran tersebut adalah "Jika A sama dengan B, dan B sama dengan A. Maka A sama dengan A.". Jika akhir adalah awal, dan awal adalah akhir, maka akhir adalah akhir. The end is the end.

Mungkin juga ini adalah permainan kata. Karena dalam penggunaan aslinya, sebagai judul lagu, kalimat ini tidak disertai dengan tanda titik. Tanda titik adalah penanda dari akhir sebuah kalimat. Sehingga, judul ini bisa dimaknai sebagai kalimat yang tidak ada akhirnya. The end is the beginning is the end is the beginning is the end is the beginning...

Mungkin juga ini adalah bentuk keisengan Billy Corgan dalam membuat judul lagu. Karena kalimat The end is the beginning is the end tidak digunakan sama sekali dalam lagu tersebut.

Namun, saya memilih untuk melihat dua kemungkinan makna yang muncul dari kalimat tersebut. Dua kemungkinan makna yang berbeda. Makna pertama melihat akhir sebagai sebuah akhir. Tidak ada kelanjutan dari sesuatu yang berakhir. Sedangkan makna kedua adalah akhir merupakan bagian dari jalinan rantai akhir-awal yang tidak berkesudahan.

Kedua makna cukup menarik. Namun dalam konteks akhir dari proyek 31 Hari Menulis, saya memilih makna kedua. Sebelum saya menjelaskan alasannya, ada baiknya menjelaskan soal permulaan blog ini.

Seperti yang diungkapkan dalam tulisan sebelumnya, saya mulai blogging saat kelas 2 SMA. Sempat berhenti ketika memasuki perkuliahan semester tiga. Tidak ada alasan tertentu. Bosan, mungkin bisa ditunjuk sebagai penyebab utama. Berhenti blogging ternyata juga berpengaruh pada kuantitas menulis saya. Sejak berhenti menulis blog, saya jadi jarang menulis dan akhirnya membuat saya kesulitan ketika harus menulis sesuatu. Saya sadar bahwa kemampuan menulis memang harus terus diasah.

Kesadaran ini muncul, bersamaan dengan digagasnya proyek 31 Hari Menulis oleh teman saya, Ardi Wilda, Ocha dan Ijah. Peserta yang memutuskan untuk ikut dalam proyek ini, harus menulis setiap hari, mulai dari tanggal 1 Mei hingga 31 Mei 2011. Jika ada hari di mana peserta tidak memposting sama sekali, maka akan dikenakan denda Rp 20.000,00/hari.

Saya melihat proyek ini sebagai sebuah metode yang efektif untuk memaksa saya rutin menulis. Saya pun memutuskan untuk ikut. Dengan gaya sok kece, Ardi Wilda mengatakan bahwa proyek ini sebenarnya adalah pertarungan antara dirinya dan Brama. Namun saya menepis pernyataan Ardi dan mengatakan bahwa saya mengikuti "perlombaan" ini demi kejayaan. Kejayaan atas diri saya sendiri. Kejayaan setelah berhasil memaksa diri untuk rutin menulis.

Dan di akhir proyek ini, saya dengan sedikit berbesar hati mengatakan bahwa saya berhasil. Saya berhasil memenuhi tantangan untuk terus menulis selama 31 hari penuh. Walau ada banyak tulisan yang cukup asal-asalan demi memenuhi deadline, namun setidaknya secara kuantitas, saya sudah berhasil.

Proyek ini memang telah berakhir. Namun, seperti yang saya sebutkan di atas, saya telah memilih untuk melihat akhir proyek ini sebagai sesuatu yang masih memiliki kelanjutan. Saya berharap untuk terus rutin menulis. Strateginya adalah mendorong kuantitas terlebih dahulu, sambil terus membangun kualitas menulis. Semoga misi ini dapat terus berjalan dan tidak kandas di tengah jalan, seperti proyek-proyek saya yang lainnya.

Monday, May 30, 2011

Paratusin

Sebenarnya di posting kali ini, saya ingin menulis soal asal usul nama saya dan nama blog ini. Tapi karena sebelum menulis, saya minum obat Paratusin, maka sekarang saya sangat mengantuk. Bahkan ketika saya paksakan untuk menulis, mata saya pun menjadi pedih. Jadi alangkah baiknya saya menyerah saja pada Paratusin, dan menunda tulisan ini untuk postingan berikutnya.
Terima kasih Paratusin!